Alpari

Tuesday, 14 July 2009

Misteri di Lereng Gunung Agung

Sunset di Lereng Agung
Setelah berhasil mencapai puncak gunung agung kami tidak langsung bergegas kembali melainkan menikmati butiran butiran kabut yang menempel di wajah kami sambil menyantap jackpot yang sengaja kami bawa untuk di santap di puncak, setelah puas kamipun turun dan sesekali mengambil gambar dengan kamera saku...
Banyak hal hal yang membuat kami sering tertawa selama menuruni lereng gunung salah satunya ketika kami beristirahat tercium aroma khas gas organik kami saling tanya satu sama lain, "bau apa neh?" kata si Pay, lu kentut ya? Pertanyaan mengarah ke saya dan sayapun menganguk "iya" Uyud juga angkat bicara "kirain kentut gw yang bau" eh si Dul bilang "tadinya gw mo ngaku" ndilalah Pay mengklarivikasi "gw sih basa basi nanya biasa ayam berkokok tandanya dia bertelur" ha ha ha kamipun berempat tertawa ternyata bau gas organik itu gabungan dari empat tempat yang berbeda pantas dahsyat menusuk hidung..
Diraskan cukup untuk istirahat kamipun bergegas turun menuju pondok pak Wayan karena hari sudah beranjak petang, indah sekali petang itu kami menyaksikan matahari terbenam dari lereng gunung, Dul mencoba mengambil gambar dari sudut yang tepat dan hasilnya bagus untuk ukuran kamera saku, sepertinya dia berbakat untuk jadi fotografer.

Dalam perjalanan menuruni lereng gunung kami mendengar sangat jelas Pedande ( pendeta/pemuka agama di Bali ) membaca doa doa sehingga sangat terasa suasana magis sepanjang jalur yang kami lalui. Akhirnya kami tiba di pondok Pak Wayan pukul 20 wita di sana sudah ada rombongan arek suroboyo yang kami jumpai di lereng gunung ketika ingin mendaki puncak, suasana persahabatanpun tercipta dengan tawa dan canda...
Di pondok itu kami beristirahat sambil sesekali membicarakan kejadian kejadian sepanjang pendakian, yang menarik adalah cerita Dul karena dia menceritakan pada saat kami menuruni lereng gunung, Dul berada paling belakang tetapi dia di iringi oleh seorang pria mengenakan pakaian putih dengan ikat kepala khas penduduk Bali, "mirip pedande" kata Dul.
Padahal jalan hanya setapak dan hanya dapat dilalui oleh satu orang saja. Kata Dul ga masalah karena pendakian kami direstui oleh penghuni gunung agung... Satu hal yang menurut kepercayaan masyarakat di sana jika kita hendak mendaki gunung agung jangan membawa makanan yang diolah dari daging sapi seperti abon, dendeng dlsb...Wawloohu'alam

2 comments:

  1. Perjalannnya pasti melelahkan sekali iya mas, mas disana suasanya bagaimana? ada tidak pas perjalanan mengalami sebuah peristiwa yang aneh begitu?
    Terima kasih :).

    ReplyDelete
  2. lelah nya hilang tuh ketika sampai di puncak apalagi sebelumnya kita ambil gambar di daerah perbatasan antara hutan dan puncak waaaah bener2 indah...
    yang aneh pas kita mau pulang aja kan pas mau maghrib kita di dampingi "Pedande" tapi herannya yg liat cuma seorang aja di antara kami...
    "BALI HOTEL ALAMATNYA DI MANA YA???"

    ReplyDelete