Alpari

Tuesday, 30 July 2013

MAHAMERU ( Puncak Abadi Para Dewa )

         

Belajar dari kegagalan pendakian tiga bulan sebelumnya dan rasa penasaran yang kami pendam untuk menikmati puncak Gunung Semeru saya dan teman teman merasa sudah siap untuk kembali ke Gunung tersebut, dengan perbekalan dan perlengkapan serta pengenalan medan yang sudah cukup akhirnya pada tanggal 4 Juli 1998 kami bertolak dari Paiton. Pada hari itu pukul 19.00 WIB hari Sabtu sengaja kami berangkat malam hari agar tiba di Ranupane pada pagi hari jadi kami memiliki waktu yang cukup untuk melaksanakan pendakian sebab senin pagi tanggal 7 Juli kami sudah harus kembali melakukan aktivitas di tempat kerja.
Pada pendakian kali ini kami kedatangan Dua orang teman Istimewa yang sengaja datang dari Jakarta yaitu adiknya Dul dan Cimol meraka adalah teman satu base camp dengan pai dan dul di daerah bintaro yang sudah memiliki jam terbang yang cukup di bawah bendera WANACALA jadilah kami enam orang, Route kami kali ini adalah Lumajang-Senduro-Ranupane.  Sabtu  5 Juli 1998 pukul 5.30 udara masih dingin menusuk tulang, tetapi kami tetap semangat dan tiba  di Lumajang maka kami berganti tranportasi yaitu Taksi istilah warga setempat untuk angkutan desa L300 menuju Ranupane dalam perjalanan menuju ke Ranupane kami melewati Hutan Produksi juga Hutan Alami dengan lihainya sopir taksi itu meliuk liuk melewati jalan yang tak terlalu besar dan tentu saja dengan kondisi jalan yang cukup memprihatinkan membuat kami deg degkan fiiiuh pagi hari itu jalan masih tertutup kabut pula, Ranupane merupakan pos pertama dan pos perijinan bagi semua pendaki yang akan melakukan pendakian ke gunung Semeru.
Tiba di resort Ranupane Ranupane pukul 08.00 WIB. Kami segera mengurus surat ijin pendakian atau biasa disebut dengan SIMAKSI (Surat Ijin Melaksanakan Kegitan), setelah semua selesai kami melakukan recheck perlengkapan dan perbekalan dirasa semua cukup kamipun melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo Selama perjalanan dari resort Ranupane kami disuguhkan pemandangan Landengan Dowo (hutan dominan pohon akasia) dan Watu Rejeng yaitu berupa tebing-tebing yang indah. Pos pertama dari Ranupane sudah kami lewati dan akhirnya kami sampai di Pos ke -dua sebelum Ranu Kumbolo pada pukul 11.30 WIB. Kami beristirahat sejenak kemudian melanjutkan perjalanan kembali.
rehat sejenak sebelum melintasi Watu Rejang
Kami melanjutkan perjalanan kembali dengan penuh semangat sambil sesekali diselingi dengan canda dan tawa agar rasa penat dan letih tak terasa, Kami masih terus berjalan dan melewati Landengan Dowo yaitu hutan dominasi pohon akasia.  ketinggian daerah Landengan Dowo sekitar 2270 mdpl. Kami masih terus berjalan menyusuri hutan rimba, dengan beberapa orang pendaki yang hampir tiap beberapa menit pasti berjumpa, entah itu yang masih akan memulai perjalanan bahkan yang sudah selesai melakukan perjalanan (kembali ke resort Ranupane). tiba di Watu Rejeng  yaitu panorama dengan tebing-tebing indah dengan ketinggian kurang lebih 2300 mdpl kami sempatkan untuk beristirahat dan mengambil gambar.

Ranu Kumbolo
Setelah melewati Watu Rejeng kami terus berjalan dan akhirnya sampai pada pos ke-tiga, Dari sini pemandangan Ranu Kumbolo nampak indah, yaitu berupa Danau Vulkanis yang sangat eksotis dengan beberapa Shelter yang semuanya tampak kelihatan dari pos ke-tiga. Disuguhkan dengan pemandangan indah.
makan siang di tepi Danau
 saya lebih bersemangat berjalan untuk menuju pos peristirahatan di Ranu Kumbolo. Setelah mengambil beberapa foto dengan latar Ranu Kumbolo, maka kami melanjutkan perjalanan dan sampai pada pos peristirahatan yang kami maksud pada pukul 13.15 WIB. pos peristirahatan ini memang disediakan pihak TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) yang memang ada beberapa Rumah Peristirahatan. yang sangat ramai oleh pendaki lain. Kami segera membongkar logistik kami dari carier ataupun daypack dan segera membuat makan siang dan minuman hangat. Saya menyempatkan diri untuk beribadah sholat Dzuhur. 
 Setelah dirasa cukup untuk beristirahat, dan mengisi tenaga. Maka kami bergegas melanjutkan perjalanan menuju Arcopodo. Tepat pada pukul 15.30 WIB, kami berjalan meninggalkan peristirahatan Ranu Kumbolo, yang tadi kami singgahi. Perjalanan kami harus dimulai dengan menaiki bukit yang mempunyai kemiringan kurang lebih 60°. Bukit ini biasa disebut dengan “Tanjakan Cinta”, begitu para mendaki menyebut bukit ini, dan kemudian terus berjalan  menuruni bukit dan sampailah kami pada Oro-oro Ombo, sebuah padang savana yang cukup luas dengan ketinggian kurang lebih 2460 mdpl. Setelah kami melalui Oro-oro Ombo sampailah kami pada Cemoro Kandang dengan ketinggian kurang lebih 2500 mdpl. Perjalanan yang cukup berat menurut saya, karena trek menanjak selama perjalanan menuju Kalimati.
        Selama perjalanan ini sempat terlintas dalam benak kami bahwa perhentian perjalanan sampai Kalimati saja dikarenakan kondisi fisik sudah cukup lelah, dan waktu sudah sangat sore, sekitar jam empat sore. Akhirnya sampailah kami pada Jambangan 2700 mdpl, dengan areal pohon mantigi yang dikelilingi padang rumput, juga banyak terdapat tumbuhan Edelweis atau yang biasa disebut dengan bunga keabadian. Setelah berjalan beberapa menit dari daerah Jambangan akhirnya sampai juga di Base Camp Kalimati namun setelah menimbang nimbang akhirnya kami melanjutkan kembali menuju daerah vegestasi yaitu daerah perbatasan antara hutan dan puncak gunung, karena kami berencana ngecamp di sana sehingga esok pagi tidak terlalu jauh melakukan perjalanan ke Puncak. 
Tiba di Lokasi yang sudah kami tentukan Alhamdulillah tempat itu kosong sehingga kami langsung membangun tenda, dan juga yang memasak. Kondisi udara  sangat dingin sekali, sampai-sampai embun yang turun menerpa tenda kami seperti hujan. setelah makanan dan minuman matang, dan kami mulai makan dan minum di dalam tenda karena kondisi udara di luar tenda yang sangat dingin sekali. Makanan sudah habis, kami bercanda-gurau di dalam tenda, sambil melepas rasa lelah setelah berjalan seharian penuh dan juga tidak lupa rokok kami sulut masing-masing. Setelah rokok satu batang habis, saya dan kawan-kawan pun beristirahat zzzzzzzzz, 
@ punggung semeru
Keesokan harinya kami bersiap dan berkemas untuk melanjutkan pendakian, Tenda dilipat dan carier  kami simpan ditempat yang aman hanya daypack dan sedikit perbekalan yang kami bawa agar tidak menyulitkan pendakian kami belajar dari kegagalan pendakian pertama, jalan menuju Arcopodo dipenuhi lembah-lembah curam atau biasa disebut Blenk. Arcopodo dalam bahasa Jawa Kuno berarti Archa = arca Padha = tempat, merupakan sepasang arca tertinggi di Pulau Jawa yang terletak pada ketinggian 3002m dpl. Namun anda pasti akan kecewa ketika tidak mendapati sepasang arca tersebut di Pos Arcopodo, karena memang letaknya tidak di pos tersebut. Setelah dipublikasikan oleh Almarhum Norman Edwin, keberadaan sepasang arca ini seolah tenggelam dalam cerita-cerita para pendaki Gunung Semeru ( Misteri Arcopodo )
Mahameru 3676 dpl
Target kami sebelum jam 9 sudah berada di puncak karena menurut informasi yang kami terima di atas jam tersebut kawah semeru sudah mengeluarkan gas beracun. mendaki Arcopodo ternyata tidaklah sulit jika kita sudah mengetahui bagian mana yang harus dipijak, bahkan teman teman kami berlomba dengan berlari menuju puncak, namun juga harus extra hati hati jangan sampai anda tergelincir sebab di bawah sana jurang yag curam sudah menanti ... Alhamdulillah sebelum Jam 9 kami berhasil mencapai PUNCAK ABADI PARA DEWA sebuah patok bercat kuning pun kami jumpai  bertuliskan 3676 dpl.
6 Juli 1998 kami berdiri disini tidak untuk menaklukan ciptaanMu tapi kami ingin menikmati dan merenungkan akan kebesaranMu ... 








No comments:

Post a Comment